Seperti biasanya, diawal tahun pertama pelajaran dimulai, sering kita melihat orang orang di jalan atau di tempat manapun juga selalu dibicarakan tentang sekolah anak anak mereka. Mungkin tak asing lagi pembicaraan yang berkisar hal yang sepele misalnya alat tulis dari penghapus sampai buku gambar, juga baju seragam, sampai ke hal yang sangat prinsip, yaitu memilihkan anak anak mereka sekolah yang cocok untuk orang tua juga untuk anak anak mereka.
Cocok dengan orang tua bukan hanya uangnya saja tetapi sesuai dengan apa yang menjadi acuan orang tua untuk anaknya kelak, demikian juga buat si anak, mereka merasa cocok dengan sekolahanya baik dengan teman, guru, maupun kurikulum yang dibuat oleh sekolah tersebut.
Itu pun terjadi pada diri saya, tapi entahlah karena gaya hidup saya yang monoton barangkali (ngaku diri nich). Dag dig dug nya mungkin tidak sekeras mereka yang mencari cari sekolah yang cocok untuk anaknya, bahkan saya punya tetangga India dulu, memindahkan anaknya semua dari satu sekolah karena keterbatasan biaya. Sekolah itu bagus, hanya sayang sudah mulai naik biayanya sehingga si Baba harus memutar otak untuk memindahkan ke sekolah lain dengan biaya yang murah namun bagus pendidikannya.
Begitu juga dengan salah satu tetanggaku yang lain, hampir di setiap tahun, dia mencari cari sekolah yang cocok untuk anaknya, setelah cocok dengan pendidikan anaknya, dan sreg, dia merancangkan masa depan anaknya pun tenang. Ini hanya sekedar pilihan..Namun ternyata berkembang membentuk si anak itu sendiri bagaimana nantinya.
Saya punya pengalaman sedikit, setiap bubaran sekolah tuh, saya sering iseng perhatikan anak anak Mesir yang pulang sekolah ada yang jalan kaki, ada yang naik mobil jemputan, ada yang naik taksi , juga ada yang naik mobil pribadi.. Kasihan sekali, beban tas mereka berat sepertinya, bergunung di kap Taksi, ngga takut ada yang muncul keluar terus jatuh, saking banyaknya tas, dan tentu dengan isi buku bacaan wajibnya yg tebel-tebel setebel Kitab Undang Undang dengan penjelasannya. Bisa dibanyakan berapa orang jiwa dalam taksi itu, Woooooooow ternyata bukan hanya 4 orang seperi ketentuan taksi (4 Rukib bas) tapi Masya Allah tuh taksi bisa ngangkut 14 nyawa lebih barangkali.!!??
Kulihat yang duduk berpeluh karena dia menopang penumpang lain di pahanya, demikian pula yang terjadi sebelahnya. Kasihan kamu nak…Belum lagi kalau dah rame, (duh sopir taksi itu mungkin dah kleyeng2 kalo ngga sabar yah), dan serunya lagi kalau antar sekolah ada yang kesiangan, udah dah jadi omelan yang lain…
Ini cerita yang memakai taksi…Kalau yang pake bis lain lagi..ketinggalan ya sudah tinggal, kan rugi harus antar sendiri…(karena pernah lihat tetangga yang anaknya kesiangan kepaksa dia sendiri yang antar).
Belum kalau cari kitab, buku tulis dan seragam…….
Bila kita sempat ke Tauhid wa Nuur (bukan promosi lho) di hari sebelum hari pertama masuk sekolah, jangan harap mendapat pelayanan cepat, karena saking banyaknya konsumen yang membeli. Bismillahi Masya Allah memang Tauhid wa Nuur itu memang untuk kelas menengah tapi yang kelas bawah pun bisa terjangkau, dan harga yang bersahabat serta kualitas nya bagus..
Berbicara masalah ini, ternyata merupakan menu utama di setiap Rumah Tangga, juga institusi keluarga. Mau kemana anak kita? Mau jadi apa anak kita? Sudah menjadi hidangan yang tak pernah aus, selama kehidupan keluarga itu ada. Sangat sayang sebagian orang mengabaikan masalah ini, karena bagaimana pun juga anak adalah cerminan dari pribadi kita, sesempurnanya orang makin dikatakan sempurna bila mempunyai keturunan yang baik, bukankah itu yang selalu kita panjatkan di hadapan Ilahi. Anak yang menjadi penyejuk hati, cahaya kedua mata kita.
Saya kutipkan sebuah wacana dari orang tua yang sedang memikirkan sekolah anaknya.:
"… apakah harapan orangtua agar anaknya ‘ sukses” dalam hidup dapat terwujud ? Meski kata ‘ sukses” tiap orangtua berbeda penafsiran.. “ Sukses” dalam realita hidup sebenarnya sederhana : selamat dalam mengarungi hidup. Tidak jadi criminal, pecandu, koruptor dan lebel sampah masyarakat lainnya.
Bagaiman adengan sukses financial ? Penelitian DR William Danko dan DR Thomas Stanley mengenai 638 milyuner di Amerika Serikat, kesuksesan financial mereka bukan berasal dari kemampuan akademis. Mereka rata-rata bukan siswa dengan nilai A. namun , mereka merasakan manfaat besekolah dan banyak belajar didalamnya, bukan pada mata inti pelajaran akademis, tapi mengenai bagaimana berdisiplin dan memiliki keteguhan hati.
Selanjutnya DR Danko & Stanley mencatat bahwa pada kelompok miliuner yang agak “ kurang cerdas” ( nilai SAT kurang dari 1000) : 72% memngatakan bahwa kesuksesan financial mereka disebabkan karena perjuangan untuk menghilangkan cap “ rata-rata atau kurang mampu “ . 93% mengatakan kerja keras lebih penting dari bakat intelektual tinggi dalam mencapai cita-cita.
Sebagian besar, merasa yang penting dari sekolah adalah mengajari untuk mengalokasikan waktu dan membuat penilaian akurat mengenai orang. Sebagian besar para miliuner itu juga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang murah. ( sementara, kelas menengah yang jauh kurang mampu dari mereka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta uang mahal). Jadi yang perlu diperoleh dari sekolah bukan sebatas kepandaian akademis, namun gemblengan mental untuk disiplin, ulet dan kerja keras. Dan sekolah favorit belum tentu menyediakan ‘ kurikulum “ mental seperti itu yang lebih baik."(Dilema Memilih Sekolah Oleh Marzuki Umar Saabah, newsletter donator DD Republika edisi rabi’ulawwal 1429 H)
Saya menyadari diri bahwa saya pun dulu sekolah di SDN di kampung yang jauh dari fasilitas mewah, malah belajar jadi sangat menyenangkan ketika banyak praktek ketrampilan yang mungkin sudah biasa dilakukan oleh orang tua kami, kami praktekkan pula yaitu BERTANI!! Sungguh suatu pengalaman yang sangat menakjubkan ketika kami menanam padi, dari mulai pembukaan tanah sampai menyemai, memupuk, membersihkan rumput, dan memanennya!! Begitu juga ketika diajari menanam kelapa, sungguh ajaib melihat kelapa yang kami tanam bersama guru kami menjadi besar dan tinggi, walau pun ketika kami tinggalkan bersama sekolah kami tercinta, kelapa itu belum berbuah. Suatu kali saya main ke sekolahan kami, bertemu dengan para guru dan anak anak, dengan kondisi sungguh menyedihkan berbeda dengan tahun 1970 an ketika kami di sekolah itu, ruangan banyak yang rusak, genteng banyak yang bocor, dan bangku serta meja sudah berkurang. Saya menangis mengenangnya, karena tahun 1978, SDN kami baru berdiri, diberikan bangku dan meja yang bagus juga guru guru yang terbaik sepanjang hayat kami…Tapi kini, guru-guru dengan gaji yang kurang, terlihat masih menarik becanya. Dan sebagian guru yang lain masih mengajar di sekolah sore untuk tambahan…
Saya bersyukur walau pun dari sekolah yang minim fasilitas tapi ternyata bisa sampai di perguruan tinggi negeri pula he he. Dan mampu bersaing dengan yang lain bersama anak Jakarta kuliah bersama dan menjadi teman baik.. Jadi teringat sentuhan nasehat dari seorang senior Bpk Prof Dr Otto Soemarwoto (Alm), ketika pak Otto mengeluh kondisi fasilitas praktikum di negeri kita, senior Pak Otto berucap,"Saudara Otto, kami menyekolahkan anda untuk bekerja keras, bukan untuk mengeluh!!" Semenjak itu beliau tidak pernah mengeluh.
Dari semua itu, seberapa pun fasilitas yang kita punya, tenyata yang paling menentukan adalah bagaimana kita memanfaatkan dan menjadikan lebih bermanfaat untuk diri kita dan anak anak kita, saya merenung dan mengembalikan pandangan diri kita, andai diri kita meninggal suatu saat, jadikan anak anak kita siap untuk mengahadapi hidup, jangan sampai mereka menjadi beban orang lain bahkan harus berguna untuk orang lain. (Wah Speechless dah kalau cerita ini, karena ketidaksiapan diri). Kita berharap dan berharap, dan kita yakin Allah SWT bersama kita dan keluarga kita untuk menjaga diri kita semua.
Mau kemanakah dikau pergi anakku..
Ku Tahu Allah SWT bersamamu..
Maka ikutilah perintah Nya..
Jauhi larangan Nya..
Pandanglah, bahwa Allah SWT menatapmu..
Memeliharamu, menjagamu, menghampirimu.
Di setiap nafasmu.
Tak Akan lepas dari penghidaranmu..
Cairo, 17 April 2008.