Dua kata yang berbeda bukan..
Tapi anda akan melihat satu action yaitu meminta
..
Magrib menjelang tiba, ketika kudengar Azan menggema, selepas itu iqamat pun menyela, para pekerja sudah banyak yang kembali ke rumah bersama keluarga, bercengkrama, sholat berjama'ah dan makan malam bersama. Satu hal yang biasa terjadi, dan merupakan rutinitas yang biasa, hari itu, lagi saya dengar lengkingan orang bernyanyi menyanyikan syair syair lama, atau entah karangan sendiri (karena buta bahasa arab he he he). Dari suara yang tak asing lagi di telinga ku. Yah hanya orang itu yang mempunyai suara berat dan melengking. Siapa kah dia??
Beberapa tahun yang lalu saya kenal si Bapak ini, dia adalah berprofesi sebagai penyapu jalan yang berbaju hijau. Dulu sebelum Mesir menerapkan swastanisasi perusahaan kebersihan, seragam Ijo lah yang merajai jalanan utnuk membersihkan jalan-jalan dari sampah dan kotoran yang menggunung sudah bila tidak disapu. Sementara yang mengambil sampah ada sendiri si pemungut sampah yang kita bayar per bulannya, sementara untuk penyapu jalan ini, hanya pemerintah yang bayar. Entah kenapa karena gaji kecil atau merupakan kebiasaan, suatu kali saya melihat si bapak ini mengucapkan kata2 barakah kepada setiap yang jalan, alhasil para pejalan kaki pun mengeluarkan sekeping atau selembar uang kepada si bapak ini.
Saya tadinya tidak mempedulikannya, artinya tidak menganggap suatu hal yang aneh, karena kebiasaan para penderma lebih suka memberi kepada penyapu jalan dari pada peminta minta. Namun mulai terasa keanehannya ketika si bapak ini mulai berani mengetok pintu rumah saya untuk minta sekedar uang katanya untuk penyapu jalan.
, saya berpikir kok aneh mestinya dia sudah dapat gaji dari pemerintah, dan bila pegawai pemerintah maka suatu hal yang aib untuk mengetok pintu rumah minta gaji tambahan. Bayangkan jika dikali satu Imarahku aja berapa. Ditambah Imarah-imarah (bangunan) yang lain..Banyak dong..
Sekalinya saya beri, ke dua kali dan sampai akhirnya saya ambil keputusan untuk tidak memberi, dan tidak asal buka pintu, takut nanti yang masuk penjahat. Hal ini diwanti wanti temanku yang bersuamikan orang Egypt untuk tidak sekali kali membukakan pintu sembarang orang. Maklum di Egypt ini rawan juga, kejahatan memang selalu ada di setiap sela. Lha setannya banyak he he he
Kembali ke bapak tadi, setelah tidak ku beri, ternyata dia tetap di daerah mangkalnya di persimpangan jalan, dan mengejar jalanku untuk meminta minta..
..Saya jadi risih, akhirnya kukasih, eh besoknya begitu lagi, Ya Allah sedih rasanya dengan mental yang seperti itu.Dia tidak bekerja seperti kawannya yang lain, saya lihat dia hanya memegang sapu lalu berjalan mendekati orang sambil mengucapkan kata kata barakah (mendo'akan), setelah dapat uang dia berjalan lagi mendekati orang sambil menegadah tangan.
Setelah Swatanisasi perusahaan kebersihan, bergantilah pekerja yang hijau menjadi berbaju orange, terlihat sangat profesional kerjanya, dalam artian mereka diawasi oleh mandor, sehingga tidak seenaknya bekerja. Hal itu membuat saya senang, karena jalan bersih terus, dan pekerjanya sangat banyak, juga ada pengambil sampah di Imarah. Nah yang seperti ini membuat berang si pengambil sampah biasanya, karena seakan memotong rejekinya dia, hampir terjadi saling rebutan sampah, yang berakhir dengan pertengkaran, tak ayal kita sebagai pembuang sampah jadi bingung dan merasa bersalah kepada tukang ambil sampah sebelumnya, namun kita sudah dipotong untuk kebersihan jalan dan sampah di rekening listrik kita..Wah puyeng juga dah..
Tak berapa lama, akhirnya yang menang si tukang ambil sampah yang dulu. mungkin di setiap Imarah di begitukan, petugas berbaju orange ngga enak hati juga, dan makin menghilang, bersamaan dengan gajinya yang tak jelas mungkin.
Ketika pergantian perusahaan itu, rupanya si Bapak ini tak hilang akal pula, dia menyewa baju orange dan memegang sapu lagi sambil mengucapkan kata barakah kepada setiap pejalan
. Arrrrrrrrrrggggggggggggh, cape saya lihatnya..inilah mental peminta minta..
Mungkin karena ada mandor yang ngawasi dan yang beri makin sedikit, dia banting setir, jadi penjual jeruk lemon, yang biasa di pakai di banyak rumah tangga Mesir untuk segala makanan sampai teh pun di beri lemon terasa segar rasanya. Tak hilang akal rupanya dia, sambil mendekati setiap pejalan dia tawarkan lemon juga disuguhi kata kata barakah agar orang berbaik hati untuk mengeluarkan uangnya. Saya pun disodorinya, namun jarang saya kasih, karena kebiasaan itu tak baik..(Aku sudah tahu sifatmu, dalam hatiku) Sampai larut malam dia jajakan lemon, dan bila malam dia pun bernyanyi menyanyikan syair syair..Seperti hari ini...
Akh bapak peminta minta..
Andai anda tahu masih banyak pekerjaan yang baik.
Bukankah ragamu sehat mestinya jiwa mu sehat pula.
Mampu untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dari sekedar meminta minta..