mimin's posts with tag: annisaa
Seperti biasanya, diawal tahun pertama pelajaran dimulai, sering kita melihat orang orang di jalan atau di tempat manapun juga selalu dibicarakan tentang sekolah anak anak mereka. Mungkin tak asing lagi pembicaraan yang berkisar hal yang sepele misalnya alat tulis dari penghapus sampai buku gambar, juga baju seragam, sampai ke hal yang sangat prinsip, yaitu memilihkan anak anak mereka sekolah yang cocok untuk orang tua juga untuk anak anak mereka. Cocok dengan orang tua bukan hanya uangnya saja tetapi sesuai dengan apa yang menjadi acuan orang tua untuk anaknya kelak, demikian juga buat si anak, mereka merasa cocok dengan sekolahanya baik dengan teman, guru, maupun kurikulum yang dibuat oleh sekolah tersebut. Itu pun terjadi pada diri saya, tapi entahlah karena gaya hidup saya yang monoton barangkali (ngaku diri nich). Dag dig dug nya mungkin tidak sekeras mereka yang mencari cari sekolah yang cocok untuk anaknya, bahkan saya punya tetangga India dulu, memindahkan anaknya semua dari satu sekolah karena keterbatasan biaya. Sekolah itu bagus, hanya sayang sudah mulai naik biayanya sehingga si Baba harus memutar otak untuk memindahkan ke sekolah lain dengan biaya yang murah namun bagus pendidikannya. Begitu juga dengan salah satu tetanggaku yang lain, hampir di setiap tahun, dia mencari cari sekolah yang cocok untuk anaknya, setelah cocok dengan pendidikan anaknya, dan sreg, dia merancangkan masa depan anaknya pun tenang. Ini hanya sekedar pilihan..Namun ternyata berkembang membentuk si anak itu sendiri bagaimana nantinya. Saya punya pengalaman sedikit, setiap bubaran sekolah tuh, saya sering iseng perhatikan anak anak Mesir yang pulang sekolah ada yang jalan kaki, ada yang naik mobil jemputan, ada yang naik taksi , juga ada yang naik mobil pribadi.. Kasihan sekali, beban tas mereka berat sepertinya, bergunung di kap Taksi, ngga takut ada yang muncul keluar terus jatuh, saking banyaknya tas, dan tentu dengan isi buku bacaan wajibnya yg tebel-tebel setebel Kitab Undang Undang dengan penjelasannya. Bisa dibanyakan berapa orang jiwa dalam taksi itu, Woooooooow ternyata bukan hanya 4 orang seperi ketentuan taksi (4 Rukib bas) tapi Masya Allah tuh taksi bisa ngangkut 14 nyawa lebih barangkali.!!?? Kulihat yang duduk berpeluh karena dia menopang penumpang lain di pahanya, demikian pula yang terjadi sebelahnya. Kasihan kamu nak…Belum lagi kalau dah rame, (duh sopir taksi itu mungkin dah kleyeng2 kalo ngga sabar yah), dan serunya lagi kalau antar sekolah ada yang kesiangan, udah dah jadi omelan yang lain… Ini cerita yang memakai taksi…Kalau yang pake bis lain lagi..ketinggalan ya sudah tinggal, kan rugi harus antar sendiri…(karena pernah lihat tetangga yang anaknya kesiangan kepaksa dia sendiri yang antar). Belum kalau cari kitab, buku tulis dan seragam……. Bila kita sempat ke Tauhid wa Nuur (bukan promosi lho) di hari sebelum hari pertama masuk sekolah, jangan harap mendapat pelayanan cepat, karena saking banyaknya konsumen yang membeli. Bismillahi Masya Allah memang Tauhid wa Nuur itu memang untuk kelas menengah tapi yang kelas bawah pun bisa terjangkau, dan harga yang bersahabat serta kualitas nya bagus.. Berbicara masalah ini, ternyata merupakan menu utama di setiap Rumah Tangga, juga institusi keluarga. Mau kemana anak kita? Mau jadi apa anak kita? Sudah menjadi hidangan yang tak pernah aus, selama kehidupan keluarga itu ada. Sangat sayang sebagian orang mengabaikan masalah ini, karena bagaimana pun juga anak adalah cerminan dari pribadi kita, sesempurnanya orang makin dikatakan sempurna bila mempunyai keturunan yang baik, bukankah itu yang selalu kita panjatkan di hadapan Ilahi. Anak yang menjadi penyejuk hati, cahaya kedua mata kita. Saya kutipkan sebuah wacana dari orang tua yang sedang memikirkan sekolah anaknya.: "… apakah harapan orangtua agar anaknya ‘ sukses” dalam hidup dapat terwujud ? Meski kata ‘ sukses” tiap orangtua berbeda penafsiran.. “ Sukses” dalam realita hidup sebenarnya sederhana : selamat dalam mengarungi hidup. Tidak jadi criminal, pecandu, koruptor dan lebel sampah masyarakat lainnya. Bagaiman adengan sukses financial ? Penelitian DR William Danko dan DR Thomas Stanley mengenai 638 milyuner di Amerika Serikat, kesuksesan financial mereka bukan berasal dari kemampuan akademis. Mereka rata-rata bukan siswa dengan nilai A. namun , mereka merasakan manfaat besekolah dan banyak belajar didalamnya, bukan pada mata inti pelajaran akademis, tapi mengenai bagaimana berdisiplin dan memiliki keteguhan hati. Selanjutnya DR Danko & Stanley mencatat bahwa pada kelompok miliuner yang agak “ kurang cerdas” ( nilai SAT kurang dari 1000) : 72% memngatakan bahwa kesuksesan financial mereka disebabkan karena perjuangan untuk menghilangkan cap “ rata-rata atau kurang mampu “ . 93% mengatakan kerja keras lebih penting dari bakat intelektual tinggi dalam mencapai cita-cita. Sebagian besar, merasa yang penting dari sekolah adalah mengajari untuk mengalokasikan waktu dan membuat penilaian akurat mengenai orang. Sebagian besar para miliuner itu juga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang murah. ( sementara, kelas menengah yang jauh kurang mampu dari mereka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta uang mahal). Jadi yang perlu diperoleh dari sekolah bukan sebatas kepandaian akademis, namun gemblengan mental untuk disiplin, ulet dan kerja keras. Dan sekolah favorit belum tentu menyediakan ‘ kurikulum “ mental seperti itu yang lebih baik."(Dilema Memilih Sekolah Oleh Marzuki Umar Saabah, newsletter donator DD Republika edisi rabi’ulawwal 1429 H) Saya menyadari diri bahwa saya pun dulu sekolah di SDN di kampung yang jauh dari fasilitas mewah, malah belajar jadi sangat menyenangkan ketika banyak praktek ketrampilan yang mungkin sudah biasa dilakukan oleh orang tua kami, kami praktekkan pula yaitu BERTANI!! Sungguh suatu pengalaman yang sangat menakjubkan ketika kami menanam padi, dari mulai pembukaan tanah sampai menyemai, memupuk, membersihkan rumput, dan memanennya!! Begitu juga ketika diajari menanam kelapa, sungguh ajaib melihat kelapa yang kami tanam bersama guru kami menjadi besar dan tinggi, walau pun ketika kami tinggalkan bersama sekolah kami tercinta, kelapa itu belum berbuah. Suatu kali saya main ke sekolahan kami, bertemu dengan para guru dan anak anak, dengan kondisi sungguh menyedihkan berbeda dengan tahun 1970 an ketika kami di sekolah itu, ruangan banyak yang rusak, genteng banyak yang bocor, dan bangku serta meja sudah berkurang. Saya menangis mengenangnya, karena tahun 1978, SDN kami baru berdiri, diberikan bangku dan meja yang bagus juga guru guru yang terbaik sepanjang hayat kami…Tapi kini, guru-guru dengan gaji yang kurang, terlihat masih menarik becanya. Dan sebagian guru yang lain masih mengajar di sekolah sore untuk tambahan… Saya bersyukur walau pun dari sekolah yang minim fasilitas tapi ternyata bisa sampai di perguruan tinggi negeri pula he he. Dan mampu bersaing dengan yang lain bersama anak Jakarta kuliah bersama dan menjadi teman baik.. Jadi teringat sentuhan nasehat dari seorang senior Bpk Prof Dr Otto Soemarwoto (Alm), ketika pak Otto mengeluh kondisi fasilitas praktikum di negeri kita, senior Pak Otto berucap,"Saudara Otto, kami menyekolahkan anda untuk bekerja keras, bukan untuk mengeluh!!" Semenjak itu beliau tidak pernah mengeluh. Dari semua itu, seberapa pun fasilitas yang kita punya, tenyata yang paling menentukan adalah bagaimana kita memanfaatkan dan menjadikan lebih bermanfaat untuk diri kita dan anak anak kita, saya merenung dan mengembalikan pandangan diri kita, andai diri kita meninggal suatu saat, jadikan anak anak kita siap untuk mengahadapi hidup, jangan sampai mereka menjadi beban orang lain bahkan harus berguna untuk orang lain. (Wah Speechless dah kalau cerita ini, karena ketidaksiapan diri). Kita berharap dan berharap, dan kita yakin Allah SWT bersama kita dan keluarga kita untuk menjaga diri kita semua. Mau kemanakah dikau pergi anakku.. Ku Tahu Allah SWT bersamamu.. Maka ikutilah perintah Nya.. Jauhi larangan Nya.. Pandanglah, bahwa Allah SWT menatapmu.. Memeliharamu, menjagamu, menghampirimu. Di setiap nafasmu. Tak Akan lepas dari penghidaranmu.. Cairo, 17 April 2008.
Sayyidah Fatimah Annabawiyah terkenal dengan sebutan Ummul Yatim dan Ummul Hanaan.. Ini lanjutan episode yang sebelumnya. Ziarah ke masjid Fatimah Annabawiyah 2.wmv (26.5 MB)
Hari Asshura..Teringat sejarahnya mereka yang meninggal di Karbala - Irak , terutama Ahlul Bait. Ini sedikit uraian Mang Aep Saepullah ketika menjadi guide kami berziarah ke Masjid Fatimah Annabawiyah.. Nanti saya buat berseri... Mohon Ma'af... Ziarah kubur ke Masjid Fatimah Annabawiyah.wmv (27.0 MB)

|  | Ketika kemarin bersama pengajian Annisa kami juga mengunjugi masjid 3 ini, yang merupakan rangkain masjid yang kami ziarahi.. 1. Sayyidah Fatimah Annabawiyah adalah putri dari Imam Husain yang selamat dari pembasmian ahlu bait di Karbala 2. Sholah Thola'i, adalah seorang yang berharap2 akan ditanamnya Kepala Imam Husain di masjidnya, Namun karena masjid tersebut berada di luar kota Cairo maka tidak jadi dimakamkan di sana. Sehingga disebutnya MAsjid Bersedih Hati. baru 100 tahun kemudian masjid ini digunakan. 3. Mardani, adalah menantu dari Sultan Nashir Mohammad Ibn Qolawun, yang menarik dari masjid ini adalah tiang yang digunakan merupakan rangkuman dari tiga kebudayaan, Tian g yang bulat dan besar adalah kebudayaan Fir'aun, tiang yang bulat dan kecil merupakan kebudayaan Islam dan tiang yang bersegi merupakan kebudayaan Romawi. |

|  | Ziarah Masjid kemarin kita sempatkan untuk mengunjungi Masjid Sultan Qolawun, seorang Sultan pada zaman Dinasti Mammalik, letak masjid ini berada di Jalan Muiz Li Dienillah, dibangun hanya dalam kurun waktu setahun yaitu 1283 - 1284 m. Bergandengan dengan Masjid ini adalah Masjid Nassir Mohammad Ibn Qolawun yang dibangun oleh beliau pada tahun 1293 M. Juga Masjid Sultan Barquq yang dibangun seratus tahun kemudian... |
Masjid ini terletak di Jalan Baabul Wazier, Dibangun pada tahun 1327 oleh Syamsudien Aq sunqur, menantu dari Sultan Nassir Mohammad Ibn Qolawwun..Kata Aq Sunqur sendiri berasal dari bahasa Parsi (Iran) yang artinya Paruh putih. Aq=paruh Sunqur=putih. Dalam peta terlihat: No 1 adalah Istana Alin Aq, No 2. Komplek Khayer Bek, No 3. Blue Mosque. - Di dunia ini ada 3 masjid yang dinamakan Blue Mosque ( Masjid Biru):
- - Masjid Sultan Ahamd di Istambul Turki.
- - Masjid Amira Fatimah di Asfahaan Iran.
- - dan Masjid Aqsunqur di Cairo Egypt.
- Didalamnya kita dapati beberapa makam yaitu :
- 1. Ibrahim Aga Mustahfazan, yang berada di kamar yang sebelumnya adalah kamar untuk menghafal al Qur'an lalu dijadikan tempat makam beliau..Di kamar ini terlihat gabungan dua disnasti, yang pertama dari dinasti mammalik, ornament marmer khas mammalik, lalu ke atasnya adalah Turki usmani, berupa tempelan keramik khas berwarna majolica, blue, sehingga orang barat menyebutnya Blue Mosque...Tak lupa langit2 kubah yang sangat bagus ornamentnya..Hal serupa terlihat di seluruh masjid ini..Ibrahim Aga Mustahfazan, adalh orang yang merenovasi masjid ini, beliaulah yang membawa keramik dari turki Iznik ini untuk menghias Masjid.
2. Syamsudien Aqsunqur, pendiri masjid ini pada masa mammalik, terlihat sederhana, karena mereka (kaum Mammalik) lebih mementingkan mendirikan masjid dan kemewahannya dibanding makam untuk dirinya..Namun sebagaimana mengikuti makam Rasulullah SAW, diatasnya dibangun kubah. 3. Alaudien Kuchuk, kakak dari Sultan Hassan putra Sultan Nassir Mohammad Ibn Qolawwun, Umur masjid ini sudah sangat tua, terlihat sangat terurus, namun kita akan mendapat guide yang sangat istimewa, sangat ramah dan selalu tanggap untuk menjawab semua pertanyaan kita. Masuk ke masjid dengan gratis. dan kita bisa naik ke menaranya dan bisa melihat sekeliling area masjid yang sangat indah, penuh dengan sejarah. Di Mihrab masjid, terlihat gabungan berbagai macam seni. Tiang yang menyangga ada dua gaya yaitu berasal dari Aswan, khas mesir yang berupa tiang2 yang bulat dan besar, dan yang berasal dari gaya Romawi yang berbentuk marmer yang bersegi dan putih warnanya. Bisa kita lihat juga mimbar dan sisi mihrab yang merupakan marmer hadiah dari Italy, sesuai dengan sejarah zaman dahulu turki usmani pernah menjajah eropa, agar tidak dikuasai dan dijajah maka Italy memberi banyak hadiah kepada kerajaan Turki Usmani ini, salah satunya dengan memberikan marmer khas Italy. Di tengah masjid, seperti biasa ada tempat wudhu yang sudah tidak terurus lagi... Selamat mengunjungi masjid ini, semoga mendapat manfaatnya..

|  | Ketika mendengar Blue Mosque, org langsung berpikir itu di Istambul tapi ternyata di Cairo juga ada.. Disebut Masjid Biru, karena ornament berasal dari hadiah sultan Turki Usmani. Sebagaimana kita ketahui Dinasti Turki Usmani pernah berkuasa di negeri Mesir ini.. Waktu berkunjung kesana bersama Ibu2 pengajian Annisa, kita sempat naik ke menara Blue Mosque dan bisa melihat sekeliling area masjid yang sangat Indah... |

|  | Masjid Sultan Barquq termasuk masjid yg dibangun pada masa Dinasti Mammalik. Seorang Raja bekas budak yang dibebaskan oleh Nasr Mohammad Ibn Qolawwun. Arsitekturnya sangat Indah Sekali terutama di Mihrabnya, juga tak lupa akan tempat wudhu yang kubahnya dihias dengan ornament yang terbuat dari GADING GAJAH. Suatu harga yang sangat mahal sekali. Batu2 untuk membangun masjid ini berasal dari Aswan, karena ukuran yang besar2, bisa dijumpai pula di Masjid Sultan Hassan. Masjid ini juga ada tempat untuk madrasah yaitu untuk belajar Islam. Terlihat di sekitar tempat wudhu ada ruangan2 untuk belajar di zaman dahulunya. Pesantren yang ada di Indonesia, sebenarnya meniru apa yang dilakukan di Mesir, yaitu membuat ruangan2 untuk belajar Islam. |
Hari ini, kami mengadakan ziarah ke masjid2 yang bersejarah di Cairo ini. Barangkali suatu keberuntungan tersendiri ketika kita berada di Cairo, maka kita akan mendapati banyaknya menara2 masjid menjulang, itulah sebabnya Cairo terkenal dengan sebutan kota seribu menara, karena banyaknya masjid yang dibangun. Bisa dibagi 3 masjid yang berada di bumi kinanah ini. a. Yang berkaitan dengan sejarah para bangsawan penguasa pemerintahan di Mesir. b. Yang berkaitan dengan sejarah Ahlu Bait. c. Yang berkaitan dengan sejarah para sholihin. Untuk kali ini kami mengunjungi beberapa masjid yang terkenal di zaman Dinasti Mammalik, Dinasti Fatimiyyah, Dinasti Ottoman (Turki Ustmani).. Salah satunya Masjid Barquq dibangun oleh Sultan Barquq pada zaman dinasti Mammalik. Kenapa disebut Mammalik (jamak dari kata Mamluk) karena raja2 yang menguasai pada dinasti ini adalah keturunan dari Budak2. Ketika masa Dinasti Ayyubiah (Shalahudin al Ayyubi sebagai pendirinya) banyak membeli budak2 dan seterusnya dididik dan dilatih untuk menjadi orang2 yang berilmu dalam pemerintahan di segala bidang, sehingga mereka para bekas budak itu mampu untuk mendirikan Dinasti yang disebut Dinasti Mammalik. Keistimewaannya dinasti ini adalah mereka mampu berkuasa selama hampir 267 tahun. Suatu masa yang amat panjang. Dan selama itu mereka membangun masjid masjid dan madrasah paling banyak dalam sejarah mesir. Dan masjid yang paling Mahal di seluruh Dunia, adalah Masjid Sultan Hassan yang dibangun pada masa Dinasti ini juga. Subhanallah, betapa cerdasnya dan arifnya orang2 zaman dahulu sehingga mereka mampu mengangkat derajat para budak menjadi penguasa di negeri ini.. Sultan Barquq sendiri adalah bekas budak yang dibebaskan oleh Nasir Mohammad Ibn Qollawun (Ayah dari Sultan Hassan), anak dari Sultan Qoluwwun. Mereka berdekatan masjidnya, berada di suatu jalan yang disebut Muiz lidienillah. Masuk dari Babul Futuh, berdekatan dengan Masjid Hakim Bi Amrillah, suatu masjid Syi'ah Fatimiyyah yang masih ada sumber air yang mengalir deras, diyakini oleh para pengikut Syi'ah Fatimiyyah sebagai air Zam zamnya mereka. Dalam Masjid Sultan Barquq ini ditemukan juga makam , tapi bukan makam Sultan Barquq, namun isteri dan anaknya, sementara dirinya dikubur ditempat yang sepi, dan dibangun masjid pula oleh anaknya yaitu Faraj Ibn Barquq. Ornamen yang sangat menarik mirip keberadaannya dengan Masjid Sultan Hassan, memang banyak sekali kemiripan yang kita temui apabila berkunjung ke masjid dalam satu dinasti. Juga ditemui kamar untuk mnyepi atau berkhalwat, yang sangat sempit untuk mendekat kepada Allah SWT. Mungkin keterangan yang paling baik, adalah dari Ustadz Aep Saefulloh Darusmanwiati, Sag, Lc. yang memandu dalam perjalan kami hari ini. Terimakasih Ustadz Aep...

|  | Pada hari Minggu ini kami pengajian Annisa mengadakan acara perpisahan sengan ibu Erwina yang cantik dan ramah, rendah hati tidak sombong katanya teh Ulfah. emang Subhananllah ibu yang satu ini, pikirannya ketika pertama kali bertemu dengannya, (ini penempatan pertama di luar negeri), terasa sekali familiarnya. Berusaha untuk menyapa paling awal, ternyata menurut beliau karen ingin diterima. Saking pengen diterimanya, ada satu kenangan saya dengan beliau, Ibu Erwina ngga mau dibilang Ibu Iskandar (beliau istri bapak Khairul Iskandar Harahap). Beliau bilang "Jangan panggil ibu, panggil aja kakak..Kak Wina", Kty lagi seperti ada jarak... Dan satu lagi, pemurah, dalam artian memberi terus2an, tidak menuggu banyak, selalu ada aja yang dibawa beliau..Dalam perpisahan inipun beliau menyumbang uang untuk membeli peralatan portable ngaji kami.. Kami selalu terkenang dan akan ingat Bu!! "Bila ke Jakarta mampir, asal telpon saya dulu, nanti saya antar kemana aja.."
Session yang menarik lagi sebelum acara perpisahan adalah tampilnya anggota pengajian Annisa ini juga tapi beliau ini Subhanallah ilmunya banyak dan ngga ada habis2nya, pemaparannya mantap, sehingga yang mendengarkan pun menjadi mantap menjalaninya..Ibu Anna Marlina Bahran Kali ini menyajikan tema Kredit Rumah pada Bank Konvensional.. Seruuu makanya banyak yang nanya, karena rumah adalah kebutuhan utama kami semua.. Makasih Ibu Anna,...
|
Andai ku tahu... Andai ku tahu..Kapan tiba ajalku.. Ku akan memohon...Tuhan panjangkan umurku Andai ku tahu..Kapan tiba masaku..Ku akan memohon..Tuhan jangan kau ambil nyawaku Aku takut akan semua dosa2ku..Aku takut dosa yg terus membayangiku Andai ku tahu...Malaikat maut menjemputku..Izinkan aku..Mengucap kata tobat padamu Aku takut akan semua dosa2 ku...Aku takut dosa yang terus membayangiku Ampuni aku dari segala dosa2ku..Ampuni aku menangis ku bertobat pada Mu Aku manusia yg takut neraka...Namun aku juga tak pantas di surga... Andai kutahu..Kapan tiba ajalku..Izinkan aku mengucap kata tobat pada Mu Aku takut akan semua dosa2ku...Aku takut dosa yg terus membayangiku.. Ampuni aku dari segala dosa2ku..Ampuni aku menangis ku bertobat padamu... Itulah penggalan syair yg mudah dihafal anak2 muda dari kelompok band terkenal UNGU..Musik yg mengiringi terasa dekat di telinga mereka.. Saya pertamakali mendengarnya agak aneh lama2 nyaman didengar telinga ( maklum rada kurang senang lagu2 keras), apalagi setelah mendengar syairnya..merinding juga.. Musiknya sih enak, malah buat hormon adrenalin mengalir...rada2 semangat ABG jadinya.. Saya ngga membahas siapa kelompok UNGU, dan mereka bagaimana..?? Hanya merasa kagum akan kreatifitas mereka untuk menggali lagu2 religius yang dikonsumsi oleh orang yang mungkin baru sebatas itulah yg mereka butuhkan, siraman rohani hanya via lagu untuk melangkah ke selanjutnya..Saya katakan selanjutnya karena kadang orang berhenti hanya untuk menyenangi lagu itu lalu ngga ada kelanjutan untuk mentadabburinya...Tadabburi apa yang ada dalam lirik lagu itu, semacam kecemasan akan datangnya masa ketika ajal menjemput... Semestinya mereka bergegas untuk meneruskan kreatifitas amal sholih dalam rangka mengisi kekosongan manakala ajal itu menjemput...mengucap kata tobat..bukan semata kata tapi refleksi dari penyataan tobat itu sendiri tidak hanya di mulut... Harusnya kita sudah tebiasa untuk menjemput ajal itu..weih merinding juga saya berkata ini, alasannya tahu sendirilah, bahwa saya belum siap, apa yang telah saya lakukan banyak no'is nya kata org mesir mah (kurangnya atau minusnya kalo ngga mau dibilang rusak he he he...) Bagaimana kita mampu punya perasaan itu?? Kata ahli hikmah, banyak2 lah mengunjungi rumah sakit, atau tempat pengobatan lainnya, atau tempat kumuh, atau penjara atau tempat anak yatim, yang bisa mengugah rasa syukur kita akan dua hal yaitu nikmat banget kita diberi waktu dan diberi sehat... Nikmat diberi waktu dan nikmat diberi sehat banyak dilupakan orang, sehingga hasilnya orang sulit untuk mengucapkan syukur terhadap si pemberi nikmat itu yaitu Allah SWT..Nikmat kalo kita tuh masih diberi waktu olehnya untuk memperoleh pahala yang banyak, memperoleh bekal yang banyak untuk kelak mendapat ridlo Nya di akherat..Bukankah telah dijelaskan oleh Allah kalo kita masuk surga itu bukan karena amal kebaikan kita, tapi karena emang Allah itu dah ridlo dengan kita...Caranya biar kita dapat ridlo Nya ya itu kitanya harus Ridlo dengan Allah SWT... Kalo dah Ridlo apa pun yang Allah mau kita siap lakukan, jenis hukum apa pun yg Allah mau cepat kita laksanakan, kalau yang Allah ngga ridlo atuh jangan dilakukan...Berusaha membuat Allah tersenyum dengan apa yang kita lakukan, berusaha untuk membuat Allah bangga dengan yang kita lakukan..lalu Subhanallah kita masuk Surga...Ya Robb Uqbalillah ya robb... Sepertinya mudah ya, atuh gimana da emang mudah,..mudah banget..hanya sulitnya ketika kita berperang lawan syetannya, maka bila kita menang, itulah sejatinya muslim, mereka mampu melawan semua keinginan syetan. Syetan itu berupaya untuk menghalangi jalannya Allah seperti janji mereka ketika disuruh bersujud kepada adam tetapi mereka tidak mau, maka Allah sediakan mereka neraka jahanam hanya karena interupsinya syetan untuk minta waktu kepada Allah untuk menggoda manusia agar jagi pengikut mereka ( artinya ajak kawan untuk hidup di neraka, untuk diajak ngobrol, vacancy di neraka... naudzubillah)..Untuk mengajak diri kita biar jadi kawan syetan itu, syetan tak segan2 mengeluarkan segala potensinya untuk mencapai tujuan itu, mereka bilang, "Kami sudah siapkan kuda2 perang dari arah belakang , depan dan juga dari samping..."...Terus gimana kita?? Siap ngga berperang dengan syetan utnuk menggapai ridlo Nya Kenapa loyo gini yah...Katanya mau perang tapi ngga ada semangat mana bisa kuat ngelawan syetan segitu banyaknya, jgn2 untuk kelas kita mah sediainnya juga syetan kelas kecil, cicitnya syetan, yang cepat2 lari bila selesai sholat...he he he ( Ingat ucapannya pak Quraish Shihab)..Pelihara Sholat, jangan ketika sholat saja tapi selesai sholat pun kita pelihara, dzikirlah sebentar untuk mngingat Nya untuk memuji Nya untuk bersyukur kepada Nya.. Lalu bangkitlah untuk meraih amal sholih yg banyak sebagai bekal untuk mencapai ridlo.Nya sebelum ajal menjemput... Apapun tugas kita, sebagai penyapu jalan, jadilah penyapu yg baik, karena Allah lihat kita..(teringat kalung temanku yg jatuh harganya lumayan ribuan dollar, diketemuka si penyapu parkir mobil, lalu dikembalikan ke pemiliknya oleh petugas keamanan pertokoan, karen penyapu itu menyerahkan kalung ke petugas keamanan tidak dikantongi,...bagaimana kalau kita penyapu jalan itu saudara?? Juga bila sebagai pengajar, manager, direktur, atau pun Ibu rumah tangga seperti saya...yang semuanya butuh energi untuk menggapai pahala itu, maka harusnya diri kita selalu di charge dengan semangat yang besar, tak lain dan tak bukan dari kalimatullah yaitu AL Qur'an... Sempatkanlah untuk mengaji, mentadabburi apa maknanya, tentu lewat pengajian dengan ahli ilmu agar kita tidak tersesat waktu menjalankan Al Qur'an, karena Al Qur'an butuh penjelasan dari sunnah Rasul, para sahabat, tabiit tabi'in...baru kita bisa menjalankan semampu kita, sekuat kita, karena kita ingat syetan bersama pasukannya telah siap di depan kita untuk menghalangi tujuan kita dalam mencapai ridlo Nya... Aku takut akan semua dosa2ku..Aku takut dosa yang terus membayangiku..Ampuni aku dari segala dosa2ku ..Ampuni aku menangis ku bertobat kepada Mu...
Sejak kemarin hatinya
gelisah memikirkan pertengkaran yang terjadi antara dirinya dengan suaminya. Ya,
suaminya yang telah mendampinginya selama beberapa tahun menapaki kehidupan
rumah tangga ini. Mungkin persoalan yang dianggap sepele menurut orang lain,
tapi entah kenapa di dalam kehidupan rumah tangganya hal itu sering jadi pemicu
persoalan?..
"Pak kalau ngomong
tuh jangan keras-keras, malu kedengaran tetangga!" "Kalau ngga keras
anaknya ngga dengar apa yang diperintahkan kita, dari tadi diam aja ngga mau
nurut!" "Kalau terlalu
kenceng ngomongnya mana bisa anak nurut!"
"Biar cepat ngerti, dari tadi malah main melulu! Cepat gitu kalau di
atur!" "Tapi ini bukan
militer, mau anaknya sakit hati kelak kalau sudah dewasa nanti begitu juga sama
anaknya! Cucu kita!"
Dan seterusnya..........
Hati seorang ibu, mana mau
anaknya disakiti, tapi seorang bapak melihat anaknya harus lebih tegas, lebih
aktiv, dan lebih cepat dalam menuruti perintah, hanya sayang caraya salah,
sehingga si ibu pun turun tangan..Maka terjadilah pertengkaran-pertengkaran
kecil yang membumbui cerita keseharian dalam rumah tangganya.
Hal ini bukan sekali dua
kali, tapi sering terjadi, ada apa ini?? Mungkinkah
ketidakberdayaannya atau ketidakmampuannya dalam mengurus memanage rumah
tangganya..
Suami setelah bertengkar
biasanya tak terlalu memikirkan, tapa sebaliknya si istri ngga bisa tidur gelisah
memikirkan masalah tersebut sampai nangis-nangis sementara disampingnya suami
tertidur ngorok pulas.............
Ya itu biasa tejadi dalam
rumah tangga katanya....... Tapi apa iya??? Ngga juga tuh, rumah
tanggaku adem-adem aja.. Akh itu sih mungkin aja
karena istri yang terlalu perasa... Ngapain repot, kita balas
juga tidur ngorok, kan
selesai..
Suatu masalah kecil bisa
jadi pemicu dalam rumah tangga seseorang, lama-lama akan menjadi bom yang akan
meledak... atau malah ada yang ekstrim tidak mau lagi mengakui keberadaan
pasangannya, maka terjadilah perceraian, dengan segala akibatnya..Yang menjadi
korban adalah anak-anak, tapi bisa juga suami istri itu juga. Coba apa
senangnya punya predikat janda dan duda hasil pengadilan? Bukan cerai mati
maksudnya. Memang ada sih yang senang dengan hasil perceraian itu membuat
hidupnya lebih baik lagi, dan Allah SWT
menjanjikan kehidupan yang lebih baik untuk keduanya, walaupun perkara itu
dibenci Nya, halal tapi dibenci Allah SWT.
Kembali ke cerita tadi, si
ibu memikirkan apa yang ada dibenaknya, apakah ini karena ketidakmengertian dia
kepada suami, sering kurang komunikasi antara mereka menjadi point dalam setiap
masalah. Bahkan bisa jadi salah fham selama ini karena tidak kembali kesepakatan
awal ketika mereka menikah. Sepakat untuk bersama dalam rumah tangga disetiap
kata senang, sedih, duka, dan lara. Dan juga kalau nanti salah satu ada yang
meninggal..
"Mungkinkah surga di
tanganku, kalau setiap saat sering ada konflik?" "Mungkikah surga di
tanganku, kalau aku tak mampu menjadi pemenang dalam setiap konflik?"
Sangat penting untuk
mengawasi diri kita dari hal keikhlasan diri di setiap langkah kita, inilah
point yang harus kita lakukan sebagai ibu rumah tnagga, wanita karier kelas tinggi,
yang jam kerjanya mengalahkan manager industri terbesar sekali pun, 24 jam
sehari..
Bagaimana tidak harus
bangun ketika anaknya nagis malam hari minta minum susu, atau mau pipis, atau
lagi sakit terpaksa begadang semalaman, padahal besok pagi hari sudah menanti
tugas lain di depan mata..
Bagaimana tidak harus
bangun ketika suami sakit merintih-rintih, padahal besok harus kerja untuk
menopang kehidupan rumah tangganya. Apalagi yang satu ini, bagaimana tidak
harus bangun ketika suami memelas minta disayang dan diperhatikan untuk
memenuhi kebutuhan bathinnya, dan ini saking beratnya padahal untuk
senang-senang ya, Allah SWT beri predikat pekerjaan ini ibadah bila dikerjakan
suami istri.. Coba betapa mengertinya Allah SWT, sampai perkara yang menurut agama
lain malah dihindari untuk golongan tertentu, tapi dalam Islam disebut
Ibadah...
Betapa perkara kecil yang
sangat sepele bisa menjadi ibadah bagi muslimah, manakala menyisir anaknya
telah dihitung pahala oleh malaikat, dan doa yang meluncur dari mulutnya akan
menjadi jalan tol untuk lebih dikabulkan Allah SWT. Dan ketika melahirkan anak,
syahid ada ditangannya bila meninggal, maka ada kebiasaan penulis ketika mau
melahirkan, membuat wasiat karena disaat itu kematian sangat dekat sekali,
menuliskan apa hutang piutang, keberadaan anak, pendidikan anak, dan sempat beberapa tahun yang lalu
menyediakan kafan untuk kelak apabila penulis meninggal. Tapi kafan itu belum
sempat dipakai, keburu jadi popok bayi dan stagen.........
Jadi sebagai ibu rumah
tangga, sebenarnya sangat dekat dengan surga, karena setiap langkahnya seakan
jalan menuju surga, tentu saja dengan pemahaman Islam yang baik, kalau dia
Ikhlas. Ikhlas menjadi point tersendiri, karena ikhlas tak akan ada bila kita
cape-cape kerjakan bubar gara-gara sewot sama suami atau anak-anak. Padahal hal
itu sering banget terjadi dalam kehidupan kita. Amal kita hancur gara-gara kita
ngga ikhlas...Saking susahnya beramal di dalam kehidupan rumah tangga kita
pernah mendengar kalau nikah itu dapat separuh agama kita. Dan ada lagi
motivator untuk ibu rumah tangga kalau kita berbuat amal sholih dapat pahala
dua kali lipat dibandingkan kita waktu belum nikah. Kenapa? Ya itu alasannya karena susah banget mencari
pahala kalau kita sudah menikah.
Akh masa?? Coba kalau kita masih
perawan senangnya bisa tarawih sebulan penuh, senangnya bisa tahajud terus,
senangnya bisa baca AQ khatam sebulan penuh... Bayangkan ketika sudah nikah
betapa sulitnya untuk mengulang kembali masa-masa indah dulu bertaqarrub kepada
Allah SWT saking sudah kecapeannya mengurus pekerjaan rumah tangga. Memang
diakui ada yang masih istiqomah, tapi apa iya semua begitu?. Banyak yang merasa
kehilangan waktu untuk bisa berdekat diri kepada Allah SWT lewat ibadah mahdoh
lagi..seperti ada yang hilang..Maka karena saking mengertinya Allah SWT, amal
shalih kita yang ikhlas dihargai lebih banyak dan merupakan bentuk ibadah
tersendiri di hadapan Nya.
Ok bu, selamat jadi ibu
rumah tangga yang baik ikhlas, sehingga surga ada di tanganmu...
Pandangan Islam terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga
Isu penindasan terhadap wanita terus menerus menjadi perbincangan hangat. Salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Perjuangan penghapusan KDRT nyaring disuarakan organisasi, kelompok atau bahkan negara yang meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Convention on the Elimination of All Form of Discrimination/CEDAW) melalui Undang-undang No 7 tahun 1984. Juga berdasar Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan yang dilahirkan PBB tanggal 20 Desember 1993 dan telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Bahkan di Indonesia telah disahkan Undang-undang No 23 Tahun 2004 tentang ‘Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga’.
‘Perjuangan’ penghapusan KDRT berangkat dari fakta banyaknya kasus KDRT yang terjadi dengan korban mayoritas perempuan dan anak-anak. Hal ini berdasar sejumlah temuan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dari berbagai organisasi penyedia layanan korban kekerasan. Di Provinsi Banten misalnya, hingga pertengahan tahun 2004 terdapat 5.426 perempuan yang dilaporkan menjadi korban tindak kekerasan (KTK). 90 persen diantaranya menjadi korban kekerasan karena berkerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri (Tempo Interaktif, 3/5/04).
Sedangkan data yang terdapat di Ruang Pelayanan Khusus (RPK) Kepolisian Kota Bandung menunjukkan bahwa selama 2003-2004 terdapat 60 kasus kekerasan fisik terhadap perempuan. Sementara data yang dihimpun oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2) Kota Bandung memperlihatkan bahwa periode Mei–Desember 2004 sudah terdapat 36 kasus kekerasan terhadap perempuan. Dengan perincian, 3 kasus perkosaan, 7 kasus kekerasan fisik, 26 kasus kekerasan psikis dan penelantaran ekonomi.
Mengingat korban kekerasan yang kebanyakan berjenis kelamin wanita itulah, para propagandis anti-KDRT beranggapan bahwa KDRT adalah masalah gender, yakni disebabkan adanya ketidak-adilan gender. Adanya subordinasi perempuan telah menempatkan mereka sebagai korban kekerasan oleh pria. Dan, ajaran agama (baca: Islam) dituduh melanggengkan budaya ini. Beberapa syariat Islam dicap sebagai upaya mensubordinasikan posisi wanita, sehingga menjadi pemicu bagi kaum pria untuk memperlakukan wanita semena-mena, yang berujung pada tindak kekerasan.
Menurut para propagandis ini, poligami dianggap sebagai bentuk penindasan terhadap wanita karena wanita ditempatkan pada posisi ‘nomor dua’. Menurut mereka jilbab juga merupakan bentuk pengekangan terhadap kebebasan wanita. Perintah istri untuk taat kepada suami pun dianggap sebagai pendorong suami untuk berbuat sewenang-wenang dan memenjarakan wanita dalam rumah tangga. Kebolehan memukul istri atau anak dalam rangka mendidik mereka, dituduh sebagai penganiayaan. Ajaran sunat bagi anak perempuan juga dianggap bentuk kekerasan fisik terhadap perempuan. Sebaliknya, bagi kaum feminis, seorang perempuan tidak wajib untuk taat kepada suaminya, wanita tidak boleh dikekang untuk keluar rumah, suami harus membebaskan istrinya bekerja, pelacur dibela karena dianggap sebagai korban eksploitasi seksual, dll.
Para propagandis beranggapan, untuk menghapuskan KDRT maka perempuan harus disejajarkan dengan pria. Relasi suami-istri dalam kehidupan rumah tangga haruslah seimbang, di mana istri memiliki kewenangan yang tidak harus bersandar kepada suami. Dari sinilah maka arah perjuangan penghapusan KDRT adalah untuk memperjuangkan hak-hak wanita menuju gender equality.
Kekerasan = Kriminalitas
Kekerasan terhadap wanita adalah bentuk kriminalitas (jarimah). Pengertian kriminalitas (jarimah) dalam Islam adalah tindakan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam dan termasuk kategori kejahatan. Sementara kejahatan dalam Islam adalah perbuatan tercela (al-qobih) yang ditetapkan oleh hukum syara’, bukan yang lain. Sehingga apa yang dianggap sebagai tindakan kejahatan terhadap wanita harus distandarkan pada hukum syara’.
Disinilah kekeliruan mendasar dari kelompok Feminis, yang menganggap kejahatan diukur berdasarkan kepada gender (jenis kelamin) korban atau pelakunya, bukan pada hukum syara’. Mereka membela pelacur, karena dianggap sebagai korban. Sebaliknya mereka menuduh poligami sebagai bentuk kekerasan terhadap wanita, dengan anggapan wanita telah menjadi korbannya.
Padahal, kejahatan bukanlah perkara gender (jenis kelamin). Pasalnya, kejahatan bisa menimpa siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Pelakunya juga bisa laki-laki dan bisa pula perempuan. Dengan demikian Islam pun menjatuhkan sanksi tanpa melihat apakah korbannya laki-laki atau perempuan. Tidak pula melihat apakah pelakunya laki-laki atau perempuan, tapi yang dilihat apakah dia melanggar hukum Allah SWT atau tidak.
Kekerasan juga bukan disebabkan sistem patriarki atau karena adanya subordinasi kaum perempuan, karena laki-laki maupun perempuan mempunyai peluang yang sama sebagai korban. Kalaupun data yang tersedia lebih banyak menyebutkan wanita sebagai korban, itu semata-mata karena data laki-laki sebagai korban kekerasan tidak tersedia. Dengan begitu kekerasan tidak ada kaitannya dengan penyetaraan hak laki-laki atau perempuan. Gagasan anti-KDRT dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap hak-hak wanita pada akhirnya justru bias gender.
Lebih dari itu, kekerasan atau kejahatan sendiri dipicu oleh dua hal. Pertama, faktor individu. Tidak adanya ketakwaan pada individu-individu, lemahnya pemahaman terhadap relasi suami-istri dalam rumah tangga, dan karakteristik individu yang temperamental adalah pemicu bagi seseorang untuk melanggar hukum syara’, termasuk melakukan tindakan KDRT.
Kedua, faktor sistemik. Kekerasan yang terjadi saat ini sudah menggejala menjadi penyakit sosial di masyarakat, baik di lingkungan domestik maupun publik. Kekerasan yang terjadi bersifat struktural yang disebabkan oleh berlakunya sistem yang tidak menjamin kesejahteraan masyarakat, mengabaikan nilai-nilai ruhiyah dan menafikkan perlindungan atas eksistensi manusia. Tak lain dan tak bukan ialah sistem kapitalisme-sekular yang memisahkan agama dan kehidupan.
Penerapan sistem itu telah meluluh-lantakkan sendi-sendi kehidupan asasi manusia. Dari sisi ekonomi misalnya, sistem kapitalisme mengabaikan kesejahteraan seluruh umat manusia. Sistem ekonomi kapitalistik menitikberatkan pertumbuhan dan bukan pemerataan. Pembangunan negara yang diongkosi utang luar negeri, dan merajalelanya perilaku kolusi dan korupsi pada semua lini pemerintahan, telah meremukkan sendi-sendi perekonomian bangsa. Tak kurang 70% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Mereka tidak mampu menghidupi diri secara layak karena negara mengabaikan pemenuhan kebutuhan pokok mereka. Himpitan ekonomi inilah yang menjadi salah satu pemicu orang berbuat nekat melakukan kejahatan, termasuk munculnya KDRT. Banyak kasus KDRT menimpa keluarga miskin, dipicu ketidakpuasan dalam hal ekonomi.
Dari sisi hukum, ketiadaan sanksi yang tegas dan membuat jera pelaku telah melanggengkan kekerasan atau kejahatan di masyarakat. Seperti pelaku pemerkosaan yang dihukum ringan, pelaku perzinaan yang malah dibiarkan, dll. Dari sisi sosial-budaya, gaya hidup hedonistik yang melahirkan perilaku permisif, kebebasan berperilaku dan seks bebas, telah menumbuh-suburkan perilaku penyimpangan seksual seperti homoseksual, lesbianisme dan hubungan seks disertai kekerasan.
Dari sisi pendidikan, menggejalanya kebodohan telah memicu ketidak-pahaman sebagian masyarakat mengenai dampak-dampak kekerasan dan bagaimana seharusnya mereka berperilaku santun. Ini akibat rendahnya kesadaran pemerintah dalam penanganan pendidikan, sehingga kapitalisasai pendidikan hanya berpihak pada orang-orang berduit saja. Lahirlah kebodohan secara sistematis pada masyarakat. dan kemerosotan pemikiran masyarakat, sehingga perilakupun berada pada derajat sangat rendah.
Untuk persoalan sistemik ini, dibutuhkan penerapan hukum yang menyeluruh oleh negara. Kalau tidak akan terjadi ketimpangan. Sebagai contoh sulit untuk menghilangkan pelacuran, kalau faktor ekonomi tidak diperbaiki. Sebab, tidak sedikit orang melacur karena persoalan ekonomi. Kekerasaan dalam rumah tangga, kalau hanya dilihat dari istri harus mengabdi kepada suami, pastilah timpang. Padahal dalam Islam, suami diwajibkan berbuat baik kepada istri. Kekerasaan yang dilakukan oleh suami seperti menyakiti fisiknya bisa diberikan sanksi diyat. Disinilah letak penting tegaknya hukum yang tegas dan menyeluruh.
Perlu pula diingat, kejahatan bukan sesuatu yang fitri (ada dengan sendirinya) pada diri manusia. Kejahatan bukan pula profesi yang diusahakan oleh manusia, juga bukan penyakit yang menimpa manusia. Tapi kejahatan adalah setiap hal yang melanggar peraturan Allah SWT, siapapun pelakunya, baik laki-laki maupun wanita.
Sanski Pelaku Jarimah
Kekerasan terjadi baik di lingkungan keluarga maupun di luar rumah tangga. Dan semua bentuk kriminalitas, baik di lingkup domestik maupun publik akan mendapatkan sanksi sesuai jenis kriminalitasnya, baik pelakunya laki-laki maupun perempuan. Semisal bagi orang yang menuduh wanita berzina tanpa bukti, pelakunya dihukum oleh Islam. Perkara ini termasuk dalam hukum qodzaf, dimana pelakunya bisa dihukum 80 kali cambukan (Qs. an-Nûr [24]: 4).
Pelacuran merupakan tindakan kriminalitas, dimana wanita yang melakukannya akan diberikan sanksi hukum, demikian juga lelakinya yang pezina. Islam tidak memandang apakah korban atau pelakunya laki-laki atau perempuan. Pelacuran, bagaimanapun tetap perbuatan tercela, tidak perduli laki-laki atau perempuan.
Sebaliknya, poligami bukanlah bentuk kekerasan terhadap wanita karena tidak dilarang oleh syariat Islam. Tapi menyakiti wanita dengan memukulnya sampai terluka, adalah merupakan kekerasan terhadap wanita, baik dia monogami atau poligami. Karena memukul wanita sampai dirinya terluka adalah perbuatan melanggar aturan Allah SWT.
Berdasarkan syariat Islam ada beberapa bentuk kekerasan atau kejahatan yang menimpa wanita dimana pelakunya harus diberikan sanksi yang tegas. Namun sekali lagi perlu ditegaskan kejahatan ini bisa saja menimpa laki-laki, pelakunya juga bisa laki-laki atau perempuan. Berikut ini beberapa perilaku jarimah dan sanksinya menurut Islam terhadap pelaku:
1. Qadzaf, yakni melempar tuduhan. Misalnya menuduh wanita baik-baik berzina tanpa bisa memberikan bukti yang bisa diterima oleh syariat Islam. Sanksi hukumnya adalah 80 kali cambukan. Hal ini berdasarkan firman Alah SWT: “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat saksi, maka deralah 80 kali.” (Qs. an-Nûr [24]: 4-5).
2. Membunuh, yakni ‘menghilangkan’ nyawa seseorang. Dalam hal ini sanksi bagi pelakunya adalah qishos (hukuman mati). Firman Allah SWT: “Diwajibkan atas kamu qishos berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (Qs. al-Baqarah [2]: 179).
3. Mensodomi, yakni menggauli wanita pada duburnya. Haram hukumnya sehingga pelaku wajib dikenai sanksi. Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak akan melihat seorang laki-laki yang mendatangi laki-laki (homoseksual) dan mendatangi istrinya pada duburnya.” Sanksi hukumnya adalah ta’zir, berupa hukuman yang diserahkan bentuknya kepada pengadilan yang berfungsi untuk mencegah hal yang sama terjadi.
4. Penyerangan terhadap anggota tubuh. Sanksi hukumnya adalah kewajiban membayar diyat (100 ekor unta), tergantung organ tubuh yang disakiti. Penyerang terhadap lidah dikenakan sanksi 100 ekor unta, 1 biji mata 1/2 diyat (50 ekor unta), satu kaki 1/2 diyat, luka yang sampai selaput batok kepala 1/3 diyat, luka dalam 1/3 diyat, luka sampai ke tulang dan mematahkannya 15 ekor unta, setiap jari kaki dan tangan 10 ekor unta, pada gigi 5 ekor unta, luka sampai ke tulang hingga kelihatan 5 ekor unta (lihat Nidzam al-’Uqubat, Syaikh Dr. Abdurrahman al-Maliki).
5. Perbuatan-perbuatan cabul seperti berusaha melakukan zina dengan perempuan (namun belum sampai melakukannya) dikenakan sanksi penjara 3 tahun, ditambah jilid dan pengusiran. Kalau wanita itu adalah orang yang berada dalam kendalinya, seperti pembantu rumah tangga, maka diberikan sanksi yang maksimal
6. Penghinaan. Jika ada dua orang saling menghina sementara keduanya tidak memiliki bukti tentang faktanya, maka keduanya akan dikenakan sanksi penjara sampai 4 tahun (lihat Nidzam al-’Uqubat, Syaikh Dr. Abdurrahman al-Maliki).
Jarimah vs Ta’dib
Dalam konteks rumah tangga, bentuk-bentuk kekerasan memang seringkali terjadi, baik yang menimpa istri, anak-anak, pembantu rumah tangga, kerabat ataupun suami. Misal ada suami yang memukuli istri dengan berbagai sebab, ibu yang memukul anaknya karena tidak menuruti perintah orang tua, atau pembantu rumah tangga yang dianiaya majikan karena tidak beres menyelesaikan tugasnya. Semua bentuk kekerasan dalam rumah tangga itu pada dasarnya harus dikenai sanksi karena merupakan bentuk kriminalitas (jarimah).
Perlu digarisbawahi bahwa dalam konteks rumah tangga, suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya agar taat kepada Allah Swt. Hal ini sesuai firman Allah Swt yang artinya: “Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Qs. at-Tahrim [66]: 6). Dalam mendidik istri dan anak-anak ini, bisa jadi terpaksa dilakukan dengan “pukulan”. Nah, “pukulan” dalam konteks pendidikan atau ta’dib ini dibolehkan dengan batasan-batasan dan kaidah tertentu yang jelas.
Kaidah itu antara lain: pukulan yang diberikan bukan pukulan yang menyakitkan, apalagi sampai mematikan; pukulan hanya diberikan jika tidak ada cara lain (atau semua cara sudah ditempuh) untuk memberi hukuman/pengertian; tidak baleh memukul ketika dalam keadaan marah sekali (karena dikhawatirkan akan membahayakan); tidak memukul pada bagian-bagian tubuh vital semisal wajah, kepala dan dada; tidak boleh memukul lebih dari tiga kali pukulan (kecuali sangat terpaksa dan tidak melebihi sepuluh kali pukulan); tidak boleh memukul anak di bawah usia 10 tahun; jika kesalahan baru pertama kali dilakukan, maka diberi kesempatan bertobat dan minta maaf atas perbuatannya, dll.
Dengan demikian jika ada seorang ayah yang memukul anaknya (dengan tidak menyakitkan) karena si anak sudah berusia 10 tahun lebih namun belum mengerjakan shalat, tidak bisa dikatakan ayah tersebut telah menganiaya anaknya. Toh sekali lagi, pukulan yang dilakukan bukanlah pukulan yang menyakitkan, namun dalam rangka mendidik.
Demikian pula istri yang tidak taat kepada suami atau nusyuz, misal tidak mau melayani suami padahal tidak ada uzur (sakit atau haid), maka tidak bisa disalahkan jika suami memperingatkannya dengan “pukulan” yang tidak menyakitkan. Atau istri yang melalaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga karena disibukkan berbagai urusan di luar rumah, maka bila suami melarangnya ke luar rumah bukan berarti bentuk kekerasan terhadap perempuan. Dalam hal ini bukan berarti suami telah menganiaya istri melainkan justru untuk mendidik istri agar taat pada syariat.
Semua itu dikarenakan istri wajib taat kepada suami selama suami tidak melanggar syara’. Rasulullah Saw menyatakan: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” [HR. Ahmad 1/191, di-shahih-kan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ No 660, 661).
Namun di sisi lain, selain kewajiban taat pada suami, wanita boleh menuntut hak-haknya seperti nafkah, kasih sayang, perlakuan yang baik dan sebagainya. Seperti firman Allah SWT: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Qs. al-Baqarah [2]: 228).
Relasi Suami-Istri dalam Rumah Tangga
Kehidupan rumah tangga adalah dalam konteks menegakkan syariat Islam, menuju ridho Allah Swt. Suami dan istri harus saling melengkapi dan bekerja sama dalam membangun rumah tangga yang harmonis menuju derajat takwa. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. at-Taubah [9]: 71).
Sejalan dengan itu dibutuhkan relasi yang jelas antara suami dan istri, dan tidak bisa disamaratakan tugas dan wewenangnya. Suami berhak menuntut hak-haknya, seperti dilayani istri dengan baik. Sebaliknya, suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya, memberikan nafkah yang layak dan memperlakukan mereka dengan cara yang makruf.
Allah SWT berfirman dalam Qs. an-Nisâ’ [4]: 19: “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menghalangi mereka kawin dan menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 19).
Nash ini merupakan seruan kepada para suami agar mereka mempergauli isteri-isteri mereka secara ma’ruf. Menurut ath-Thabari, ma’ruf adalah menunaikan hak-hak mereka. Beberapa mufassir menyatakan bahwa ma’ruf adalah bersikap adil dalam giliran dan nafkah; memperbagus ucapan dan perbuatan. Ayat ini juga memerintahkan menjaga keutuhan keluarga. Jika ada sesuatu yang tidak disukai pada diri isterinya, selain zina dan nusyuz, suami diminta bersabar dan tidak terburu-buru menceraikannya. Sebab, bisa jadi pada perkara yang tidak disukai, terdapat sisi-sisi kebaikan.
Jika masing-masing, baik suami maupun istri menyadari perannya dan melaksanakan hak dan kewajiban sesuai syariat Islam, niscaya tidak dibutuhkan kekerasan dalam menyelaraskan perjalanan biduk rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat terhindarkan karena biduk rumah tangga dibangun dengan pondasi syariat Islam, dikemudikan dengan kasih sayang dan diarahkan oleh peta iman. Wallahu’alam bi shawab.
Oleh : Asri Supatmiati Ditulis kembali oleh Mimin Mintarsih untuk Buletin Annisa
| |