Rutinitas pagi itu menyertaiku, membawa Nurhana pergi ke sekolahnya. Kugandeng dia sambil kadang bercerita, sangat menyenangkan sekali, apalagi kalau anakku mau membalas pertanyaanku atau memberikan topik baru. Aku sering terkagum dengan bapak bapak Mesir yang mengantar anaknya, terlihat lebih cerewet, menyenangkan sekali bila mereka mengajak soal jawab dengan anak anaknya. Balik ke kitanya, sangat jarang sekali seorang ayah mengajak cerita kepada anaknya, pun begitu juga ibunya. Tapi mungkin di negeri kita hal ini sudah biasa, mudah-mudahan.
Mungkin karena tipologi diriku yang pendiam, aku harus mendorong diriku sendiri untuk lebih aktif kepada mereka, agar tidak seperti diriku yang pernah mengalami speech delay, begitu juga kedua anakku yang pertama dan yang paling parah yang ke dua. Isa masih menggumam namun saya selalu berdo'a dan mencoba untuk jujur agar dia lebih banyak interaksi dengan lingkungannya, lebih lagi lingkungan Mesir yang tertutup untuk bisa main sepuasnya, tidak seperti di Indonesia yang mempunyai halaman untuk bermain, atau lingkungan keluarga karib kerabat yang dekat. Oh I miss Indonesia..
Hari itu pun saya coba untuk mendorong Nurhana bercerita, anak ke tiga ku ini agak cerewet dibandingkan kakaknya. Bila bertemu dengan orang yang menyapanya dengan Bahasa Arab atau Bahasa Inggris, nalurinya tahu kalau orang tersebut pasti menanyakan namanya. Seperti hari itu, seorang perempuan cantik berkerudung hijau serasi dengan kaos casual dan celana jeans yang dia pakai. Saya lihat orang Mesir terutama perempuannya pandai sekali berdandan. Gadis gadis berseliweran memakai baju dan kerudung model masa kini, rupanya mereka sering mengikuti model juga.
"Assalamu'alaikum", sapanya.."Wa'alaikumsalam," jawabku..(Aneh dalam diriku, dia sapa dan menggenggam tanganku, lalu cium pipi kanan kiri, namun akau masih berpikir ini siapa?)
"Ana Dukturah (Dr. perempuan, titel yang disandang orang yg sudah selesai S3)"..Di Mesir, level pendidikan memudahkan orang untuk mendapat gelar itu, karena sumbangan pendidikan dari pemerintah banyak sekali, terutama untuk universitas selevel AZHAR, yang mereka punya yayasan sendiri dan badan wakaf yang mempunyai harta dan orang-orang yang penyantun yang banyak. Mesir dikenal sangat bergegas-gegas berlomba-lomba dalam kebaikan amal jariah ini..Orang Indonesia pun merasakannya, 5000 orang Mahasiswa Indonesia di Azhar bersekolah gratis, bahkan diantara mereka banyak yang mendapat beasiswa, dan setiap tahunnya Azhar, tetap menyisihkan ratusan beasiswa untuk orang Indonesia.
Kembali ke perempuan tadi..(walaupun sudah bilang begitu keanehan tetap bersinggah di hatiku).."Saya Dukturoh, dan saya orang Sa'id (suatu daerah yg jauh dari Cairo).." saya manggut manggut aja, terlihat dia melempar senyum ke Nurhana dan memegang tangan Nurhana "Allooh Gamilah Awi (cantik sekali), Ismiik eikh (namamu siapa?)" .."Nurhan.." jawab Nurhan."Yaaaah ismu Gamil awi, dah ismiii (Namanya cantik banget, ini nama saya)" "Nurhan Ismii (Nurhan nama saya)". Dalam hati saya, yah biasa orang mesir basa basi, udah cepetan mau ngomong apa, soal e Nurhana dah lambat nich..
"Bussi..(lihat saya, maksudnya dia minta perhatianku). Saya orang Sa'id, terus saya lagi hamil, sakit2an, sampai sakit keras, mau mati saja rasanya, kalau untuk naik mobil kayaknya susah travel jauh, saya tidak punya uang, tolonglah saya, bila suamiku dan kerabatku datang, saya akan bayar uangmu."..Oalaaaaaa, kasihan kamu neng, cantik cantik, ngajak bicara saya hanya untuk itu. Namun dalam hati saya berpikir, kok bisa ya, seorang dukturoh, mestinya terhormat dalam ucapan dan tindakan, berani amat dia minta pertolongan pinjam uang di jalan, dan saya ngga kenal lagi, aneh suatu hal yang ganjil, tapi saya ngga su'udzon hanya mungkin dia berani berbuat begitu karena keadaan, maklum di Mesir harga2 sudah makin menggila, sangat membuat tercekik leher mereka yang tak mampu..
Hanya hanya berucap.." Malisy, mohon maaf saya tak bisa bantu..". Wajahnya sedikit berubah dari sumringah menjadi biasa-biasa aja, lalu berucap " Tab kholas, ya sudah makasih.." Saya berucap makasih pada dia juga, lakin (tapi) pertemuan kami diawali salam sedang perpisahan kami tidak diakhiri salam, karena sang perempuan tadi sudah berjalan lagi menuju ke tujuannya entah kemana..(semoga Allah memudahkan kami neng!)
Ya Robbiii..
Mungkin bisa saja saya memberinya sedikit uang, Namun keadaan begitu cepat, dan rasa waspada saya kebetulan begitu tinggi, atau hjangan jangan curiganya yah, namun entah refleks aja saya bersikap seperti itu, ternyata butuh latihan agar hidup tidak penuh dengan beban..
Lain yang ini, lain pula yang akan saya ceritakan ini, satu malam saya sedang bergegas menuju Abu Dzikri, sebuah toko serba ada yang lumayan murah di sekitar apartemen kami. Tiba tiba ada sebuah keluarga menanyakan dimana Rumah Sakit Mustafa Mahmud, tadinya mereka ragu menanyakan pada saya maklum saya ajnabi (orang asing), namun saya coba jawab, sehingga mencairlah keraguan itu. Dan anehnya tidak hanya berhenti disitu, sang istri berkata,"Madame, saya dari Mansuroh (beda kabupaten dgn Cairo), jauh sekali, saya tak punya uang untuk ongkos,.." Kaget saya, namun saya melihat sang suami sangat malu melihat istrinya berbuat begitu, dan mencoba untuk mengajak pergi cepat-cepat istrinya, secara refleks saya keluarga sedikit uang, dan berkata,"Mudah2an ini cukup...". Dia jawab cukup dan mengucapkan terimakasih...
Dua hal yang beda bukan? Kejadian yang sama di jalan, sesudah itu, saya lupakan kejadian itu, namun saya teringat lagi ketika si perempuan yang mengaku Dukturoh itu muncul. Semoga hidup ini tanpa beban, sehingga kita pun melakukan aktifitas pun tanpa beban. Biar tanpa beban butuh latihan karena hidup itu selalu diiringi masalah, dan itu yang menjadi hidup itu makin menjadi bermakna..
Semoga hidup kita tanpa beban, Merdeka dengan segala apa yang ada..
Cairo akhir Mei 2008