Waktu itu tanggal 4 Januari 2000, Kami mendapat amanah lagi, sesudah anak pertama kami, Yahya lahir di Indonesia, kali ini Suamiku menginginkan anaknya lahir di Cairo. Setelah mencapai kehamilan bulan ke sembilan penuh, setelah beda tanggal lahir, perhitungan dokter tanggal 1 Januari (Bayi millenium dong), tapi perhitungan saya tanggal 5 Januari. Padahal pas tahun baruan itu sengaja dicape2in biar cepat keluar eh ga noggol juga. Rupanya sang Bayi pengen keluar tanggal 4 Januari 2000, tersa sakit sudah sejak tanggal 3 Januari, namun pengalaman kelahiran pertama yang lama, saya bisa menghitung berapa pembukaan yang telah terjadi, sekitar pukul satu siang pembukaan pertama, waktu itu suami masih di Kantor, saya ditemani Yahya dan Dek Musyaffa Kholil di rumah mempersiapkan diri untuk ke Rumah Sakit. Setelah masak selesai, waktu itu Ramadhan jadi kami sekalian persiapan untuk buka puasa.
Namun Suamiku belum juga pulang, setelah jam 3 sore lewat pun dia belum datang, kalau pulang jam segitu emang pas macet2nya. Karena tidak punya mobil, ikut sama kawan. Pembukaan terus berlangsung. Pas sebentar lagi mau magrib, barulah suamiku pulang, ditanya sudah terasa mah, ya iyalah dari tadi, tapi gimana jam segini mana ada taxi, kita tunggu sampai magrib dulu!!, karena selepas magrib taxi mulai jalan lagi sesudah mereka berbuka. Untuk ambil teman Indonesia, tak enak ganggu mereka. Akhirnya ku tahan agar jangan sampai berbaring, karena si bayi terasa sudah di pintu.
Suamiku menelpon rumah sakit "Istri saya mau melahirkan , tapi nanti saya datangnya sesudah berbuka puasa!!", saya ingat waktu sampai di Rumah sakit, Madame Madiha, suster yang menerima telepon suamiku berkelakar dengan dokter Asma Idris Aly, yang bantu persalinanku " Lucu lho dok, masa suaminya bilang istriku mau melahirkan tapi nunggu magrib, ga kebayang kalo lahir di jalan".. Karena mereka tahu ketika di lihat saya sudah memasuki pembukaan 8!!
Hanya sebentar di ruang periksa, langsung saya masuk ruang operasi, persalinan biasa, Alhamdulillah hanya sekitar 15 menit di ruang operasi lahirlah bayi laki - laki yang kami beri nama MUHAMMAD ISA ANSHORI SUBANDI, mengambil nama ulama besar persis Bandung, bapaknya Endang Saefudin Anshori.
Sebenarnya nama Isa sebagai panggilan, karena tahu lahir Januari dimana para penganut kristen Koptik merayakan Kelahiran Nabi Isa di bulan Januari, terkesan akan perjuangan Nabi Isa dalam menegakkan kalimat Allah, kalau Muhammad untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sedang Anshori adalah jalan dimana kami bertempat tinggal, Subandi diambil dari nama terakhir sang Ayah..
Yang jelas saya mengagumi pula jalan da'wah yang dilalui oleh Muhammad Isa Anshori.
Ya Robb, semoga engkau bimbing dia, anakku, terus berada di jalan Mu, selamat dunia dan akheratnya...
101_0992.mov (7.8 MB)