mimin's posts with tag: tamu dari indonesia

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag tamu dari indonesia

Selamat bulan April ini, saya mendapati dua kenangan, ada yang pulang karena masa tugas sudah selesai, dan ada yang datang, untuk suatu tugas dan kumpul bersama keluarga di Cairo..

Ibu Dewi Sudarmawan, pulang karena tugas suami (Pak Sudarmawan, Kabid penerangan KBRI ) sudah selesai. Kami mengucapkan kata pisah dan silaturahmi ke rumahnya menjelang keberangkatan beliau ke Airport.

Ibu Yahya Muhaimin, istri Mendikbud, bertandang silaturahmi ke SIC setelah rangkaian Lokakarya Usai, kebetulan kami Ibu2 pengajian sedang mengadakan taklim, maka bersilaturahimlah kami dengan beliau..

Ibunda dari teman kami, Ibu Masruroh Nusron, datang menengok cucu dan anaknya di Cairo ini, Subhanalah Ibu dengan 9 anak ini (7 yg masih hidup), sangat muda dibanding usianya dan sehat serta kuat. Kami bersilaturrahim ke rumahnya mendengar ceritanya terasa segar mengalir darah untuk wiraswasta, karena mendengar cerita beliau tetang wiraswasta batik pekalongan yang ditekuninya bersama anak anaknya..Makasih Ibu atas cerita yang membangkitkan jiwa wiraswasta kami juga baksonya mbak Ruroh yang enak sekali...

Photo AlbumBareng Bu Fatmawati Quraish Shihab.. (11 photos)Mar 21, '08 8:01 PM
for everyone

Alhamdulillah, pas pertemuan DWP bulan Maret bertemu dengan Bu Fatma, yang sedang mendampingi Bapak Quraish dalam rangka tugas kerjanya di Mesir...

Bismillahi Masya Allah..Ibu Fatma tambah Cantik dan segar dengan jilbabnya..

Blog EntryFilm Ayat Ayat Cinta dengan Kang Abik..Feb 23, '08 1:24 PM
for everyone

Saya pernah menanyakan pertanyaan dari Ade Siti, tentang bagaimana sikap Kang Abik tentang Film Ayat Ayat Cinta itu..secara seloroh saya katakan apakah ada kekhawatiran untuk mengubah rasa ketika Novel itu diterjemahkan (ini pertanyaan dari Andrea, yang menanyakan sudahkah Ayat Ayat Cinta diterjemahkan ke Bahasa Arab). Ternyata Kang Abik mengakui kekhawatiran itu dan begitu juga ketika difilmkan...

Saya Upload di youtube, dan subhanallah antusias kawan kawan untuk mencari Film Ayat Ayat Cinta itu semangat banget. Untuk seorang ibu seperti saya, penghargaan terhadap kaum muda yang ingin tahu banyak tentang Film itu sangat dibanggakan, betapa hausnya mereka untuk mencari hiburan dengan genre yang berbeda, lebih dari sekedar film biasa..

Sengaja saya kasih judul seperti di atas, ternyata yang berkunjung sudah banyak..15 orang..

Saya sengaja mampir di youtube, mudah2an seterusnya ingin mengupload yang mendidik kita ke arah yang baik...Semoga...


VideoWawancara dgn Habiburrahman bag 4Feb 20, '08 10:45 AM
for everyone
Bagian ini menjawab pertanyaan bagaimana trik2 untuk menulis, kebetulan pertanyaan ini berkaitan dengan kegiatan ibu ibu Al Muttaqien yang berusaha untuk mengisi buletinnya. Karena sebisa mungkin ibu ibu mengisinya dengan hasil karyanya sendiri bukan copy paste..

Dan ternyata jawabannya sangat menggiurkan..bagi mereka yang senang nulis..he he he


Import.flv (9.7 MB)

VideoWawancara Dgn Habiburrahman bag 3Feb 20, '08 7:00 AM
for everyone
Sudah di upload di youtube, bisa dicari dengan judul yg sama..
Bagian ini menjawab pertanyaan, "Sejauhmana visi Kang Abik dalam mengembangkan sastra yang education oriented, dan bagaimana bila di pasar tidak laku visi yang seperti itu, apakah Kang Abik mau beralih mengikuti selera pasar.??"

Simak jawabannya yang tidak pernah lepas dari filosofi keagamaan yang dia fahami...


Import.flv (11.7 MB)

Ini Videonya dari wawancara dengan Kang Abik, sebelum acara kajian bulanan yang berjudul "Membungkus Dakwah dengan Seni"..

Saya menanyakan beberapa hal yang ditanyakan oleh teman2 MP saya..
Makasih kepada teman 2 yang membantu wawancara saya dengan beliau..


Import.flv (18.3 MB)

Pertanyaan ini saya sampaikan ke Kang Abik, setelah dua pertanyaan sebelumnya, kali ini pertanyaan berasal dari Mas Musta'in. Maaf baru ditanyakan, setelah dua pertanyaan yang lain. dan semoga kita bisa mengambil hikmahnya dengan apa yang dilakukan oleh Kang Abik, terutama bagi mereka yang berkeinginan untuk bergelut di bidang tulis menulis..
 
Mas Musta'in wrote, "Setelah sukses dengan Novel Ayat-Ayat Cinta yg laris manis bak kacang goreng, bahkan difilmkan, sejauh mana visi beliau mengembangkan sastra yg education oriented dan sesuai dengan budaya Islam?. Bila suatu saat dg karyanya yg bervisi di atas ternyata tidak sukses di Pasar, apakah akan beralih orientasi yg sesuai selera pasar?"
 
Dijawab oleh Kang Abik, "Saya menulis tidak semata-mata untuk cari uang, semata - mata untuk dapat uang, saya snagat percaya dengan firman Allah SWT, Intansurulloh Yansurkum, Jika kamu menolong Allah SWT maka Alloh akan menolong kamu. Ketika kita memikirkan Alloh maka Alloh akan memikirkan kita. Ketika saya menulis Ayat Ayat Cinta, Wallahi, saya tidak membayangkan akan bisa meledak seperti sekarang. Sampai ditulis oleh majalah SWA tentang royaltinya sekian dan sebagainya. Saya tidak pernah membayangkan itu. Saya hanya ketika menulis itu, saya niatnya hanya saya akan menulis sebuah karya, yang saat itu di Indonesia, banyak karya - karya yang saya lihat merusak, saya menulis yah mungkin alternatif karya itu.
 
Kemudia saat itu kan, agama yang mulia ini sedang banyak dikecam, saya mendudukan persoalan-persoalan agama ini. Kalau saya menulis dalam buku Ilmiah kok kayaknya tidak akan dibaca orang. Maka saya masukan dalam novel, dalam percakapan yang mengalir, tentang misalnya kedudukan perempuan dalam Islam. Buku sudah banyak, tapi sering sekali orang memandang sebelah mata dengan Islam. Maka saya bikin novel Ayat Ayat Cinta itu. Niatnya hanya itu..awalnya dari itu.
 
Yang lebih dari itu saya niatnya, dalam bagian yang terakhir Ayat Ayat Cinta itu saya mengajak orang untuk ber-Tauhid. Jujur saya katakan itu..Karena saya habis kecelakaan, batas antara hidup dan mati itu tipis sekali, wong saya kecelakaan, kaki patah , lalu ke rumah sakit. Betapa banyak orang yang kecelakaan lalu 'Alatul (langsung), bablas sampai akherat. Itu saya masih melihat dunia itu, saya merasa bahwa nyawa itu memang titipan betul. Kemudian saya teringat, Lah saya belum ngapa-ngapain, paling tidak saya menulis mengajak orang untuk ber - Tauhid. Terserah apa kata orang, misalnya dianggap keras atau sangar dan sebagainya. Saya hanya mengatakan yang menurut saya benar. Maka Maria tetap masuk Islam, dia harus masuk Islam, harus dipaksa Islam. Awalnya harus mengakui bahwa Islam ini benar, tapi kan harus melalui sebuah perjalanan panjang yang tidak terasa ke arah sana. Yang kira-kira kalau orang kristen baca itu ngga marah. Dan buktinya Alhamdulillah sampai sekarang orang kristen itu tidak marah. Saya pernah baca e mail, "saya itu sebenarnya sudah pengen, cuman takut sama orang tua saya,.."
 
Kedepan misalnya itu tidak laku,.. Ulama dulu mengajarkan, sampai beliau meninggal karyanya tidak dibaca orang, ketika meninggal karyanya baru dibaca orang, dicetak, baru dibaca oleh kita juga.."
 
Ketika ditanyakan, "Bagaimana Kang Abik membagi waktu dengan keluarga karena kesibukan nya yang amat sangat itu?"
 
Kang Abik menjawab,"Sebisa mungkin ada waktu untuk keluarga, bukan kuantitas tapi kualitas. Pernah ketika di Malaysia saya menelpon langsung kawan saya di Indonesia untuk mencari hotel di Solo, karena waktu saya hanya dua hari, oleh sebab itu saya pergunakan semaksimal mungkin untuk keluarga. Lalu saya telpon keluarga untuk langsung menuju hotel yang dituju, juga tak lupa untuk mengajak Pak Dhe, agar sekalian berlibur di Solo.."

Untuk pertanyaan ini sengaja saya ambilkan dari Mas Yanuar..Maaf ya mas kemarin pas baca depan dia grogi jadi essensi pertanyaan mas kayaknya ga keluar, namun semoga menjadi obat dari pertanyaan dari mas itu sendiri.. 

Mas Yanuar wrote  "...untuk penulisan novel AAC itu, apa sebagian besar adalah pengalaman Kang Abik di Cairo, ato murni dari hasil merangkai kata2 dakwah dalam seni novel?."

Saya buat pertanyaan,"..Apakah tokoh Fahri itu merupakan berdasarkan pengalaman sendiri atau dari hanya merpakan hasil rekayasa untuk membungkus dakwah, atau membuat apa yang difahami oleh Kang Abik terus dituangkan dalam bentuk Novel??"

Kang Abik menjawab, "Sebenarnya tokoh Fahri itu merupakan hasil gabungan dari beberapa tokoh lekatan. Dalam hal Bahasa misalnya saya terinspirasi oleh tokoh- tokoh di awal kemerdekaan. Dalam hal Al Qur'an saya terinspirasi dengan tokoh di Yogya yaitu Kyai Munawwir krapyak Yogya, beliau mendirikan pesantren Al Qur'an yang hampir seluruh pesantren di Jawa itu sanadnya nanti sampainya ke Kyai Munawwir Krapyak. Di Kudus itu ada pesantren Al Qur'an itu muridnya Kyai Munawwir Krapyak, di Wonosobo ada pesantren Qur'an dan universtas Qur'an ISIQ Wonosobo itu muridnya Kyai Munawwir Krapyak juga. Saya terinspirasi dengan tokoh yang bernama Kyai Munawwir Krapyak ini.

Munawwir Krapyak jika dibandingkan Fahri itu tidak ada apa-apanya. Fahri belum terbukti melahirkan generasi. Belum terbukti melahirkan penerus. Tapi Kyai Krapyak sudah terbukti. Kalau diruntut, saya bisa baca Al Qur'an, kalau diruntut itu tidak akan lepas dari jasa Munawwir Krapyak. Saya belajar di pesantren Mranggen itu belajar dengan Kyai Muhibbin, Kyai Muhibbin punya guru Kyai Jragung itu, Kyai Jragung punya guru yang dari Kudus, Yang dari Kudus itu punya guru Munawwir Krapyak itu. Ini satu contoh kecil.

Munawwir Krapyak itu hidup di jaman sebelum kemerdekaan, dia belajar di Mekkah pakai kapal, di Mekah sama juga seperti Fahri tidak dapat beasiswa, harus bekerja, dulu Mekah tidak ada minyak belum sekaya sekarang, mereka bekerja dan hidup di tanah Haram, dan dia bisa Qiro'ah Sab'ah.

Kemudian berkaitan dengan orang desa yang ke kota terus ngga minder, ini ada tokoh lekatannya. Tokoh lekatannya itu namanya Abdul Halim. Saya pernah membaca sejarah orang besar di Mesir ini yang bernama Abdul Halim. Abdul Halim orang desa di Mesir, ayahnya sangat mencintai agama ini, suka kepada Al Qur'an, sejak kecil Abdul Halim sudah belajar Al Qur'an, seperti orang Mesir, SD sampai 'aliyah di Al Azhar, hafal Al Qur'an sejak umur 10 thn, setelah itu Abdul Halim dikuliahkan sama ayahnya ke Ibukota, Cairo ini. Dia Akhirnya lulus di Al Azhar dari Fakultas Ushuluhudin jurusan Filsafat yang terbaik di angkatannya, lalu S2 di Azhar juga dan dia juga terbaik, karena terbaik maka oleh Al Azhar disekolahkan S3 ke Sorbone, Universitas Sorbonne, Francis.

Di Sorbonne, karena tidak bisa bahasa Francis minta proffesornya untuk bisa bahasa Francis, karena waktunya yang mepet, kebetulan proffesornya punya mahasiswi Francis yang ambil disertasi program doktor jurusan sejarah Timur Tengah. Dan syaratnya harus bisa bahasa Arab. Dan dia sama sama juga belum menikah. Bagaimana kalau sharing. Kalu saya yang ditawari mungkin saya mau aja..he he he . Abdul Halim ngga, apa kah saya sebagai orang Al Azhar, harus berduaan dengan orang Francis ini, lalu dibawa ke rumah sebagaimana orang Francis. Maka dia bilang sama Proffesornya, Proff saya butuh waktu 3 bulan untuk bisa bahasa ini. Akhirnya yang awalnya dia kost dekat Sorbonne yang sangat mahal, dia cabut pindah ke tempat yang jauh pinggir kota Paris, yang murah. Sehingga dia masih punya dana untuk mengambil kursus. Dia punya Azam, 3 bulan kemudian ketemu profffesornya, dia harus bisa bahasa Francis. Dan benar, tiap hari bawa kamus, dan sudah bisa bahasa Francis dengan Proffesornya. Dan tidak perlu lagi untuk minta tolong sama orang Francis. Akhirnya menulis, dan selesai kuliah di Sorbonne, disertasinya tentang tasawwuf dan mendapat Summa Cum Laude. Pulang ke Al Azhar, jadi dosen di Al Azhar, jadi dekan di Al Azhar, sampai kemudian menjadi orang nomor satu di Al Azhar, dialah Syaikh Abdul Halim Mahmud.

Ini yang menginspirasikan saya bikin tokoh Fahri dengan perbuatan perbuatannya itu, untuk keteguhannya Fahri pada agamanya ini. Kalau Fahri dibandingkan Abdul Halim Mahmud, sangat jauh sekali. Tidak ada apa apanya. Abdul Halim Machmud ada, dan sudah menghasilkan banyak generasi. Di Indonesia yang pernah menjadi muridnya Abdul Halim Mahmud adalah Mustofa Bisri, (Gus Mus), itu sudah saya taqkidkan pada beliau..Ulama sekarang yang pernah dibimbing beliau misalnya Yusuf Al Qordhowi. Banyak Ulama besar yang pernah menjadi muridnya Syaikh Abdul Halim Mahmud. Meskipun di Francis, dia tetap istiqomah mengamalkan Islam ini. Kalau Fahri tetap sholat jmaah itu wajar di Mesir, kalau Fahri tetap baca Al Qur'an itu dah biasa, tapi Abdul Halim Mahmud di Francis. Ini jadi kalau saya ceritakan tokoh lekatannya, maka Fahri ini jadi kecil..


Alhamdulillah kemarin saya sempat menanyakan beberapa hal yang dititipkan oleh teman2. Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah pertanyaan dari Teh Temmy yang menanyakan penokohan Aisha yang amat sempurna bukannya Fahri yang dibilang org amat sempurna, namun teh Temmy punya penilaian lain,(Hal ini dinyatakan juga oleh Bu Yuni, pernyataannya sama ya bu, jadi disatuin aja)

walah salam aja ceu......
cuma pertanyaan satu nih yg ngeganjel,pan orang2 bilang tokoh Fahri di aac sempurna katanya,menurutku mah tokoh Aisyag yg terlalu sempurna,laen kali mah jangan bikin yg terlalu sempurna gitu,jadinya kita bisa rada related ama tokoh2 ceritanya dia ..hehe*nawar.com
 
Pertanyaan teh Temmy, ditanggapi Kang Abik,..
Ini nanya apa kasih komentar, terus tentang penokohan Fahri atau Aisha yang sempurna, menurut Kang Abik banyak ditanyakan orang dan itu memang by the scene , ternyata pertanyaan itu muncul karena selama ini di Indonesia sangat sedikit sekali kita mendapati hal hal yang baik, sehingga ketika melihat Fahri seperti itu maka sepertinya sempurna banget, padahal kalau mau jujur Fahri itu tidak sempurna sempurna amat, bahkan waktu bedah buku  di Padang, pembandingnya Kang Abik berkomentar Fahri adalah orang yang sangat tidak sempurna. karena punya karakter cengeng misalnya..
 
Sebabnya pernyataan itu muncul karena:
Pertama, tokoh yang dihadirkan dihadapan kita, dalam sinetron atau film, maaf, itu tokoh tokoh yang tidak perlu diteladani, maka ketika kasih tokoh dalam rangka untuk diteladani maka itu dianggap sempurna. Padahal apabila tokoh Fahri itu dibandingkan dengan orang orang yang tidak jauh dengan kita, misalnya tokoh awal kemerdekaan kita itu tidak ada apa2nya..
 
Ada Mahasiswa ketika di UGM berkata,"Kang Abik, mana mungkin pada jaman sekarang ada mahasiswa yang seperti Fahri, pinter Bahasa Arab, Al Qur'an, Bahasa Inggris juga Jerman?!", maka Kang Abik jawab dengan senyum, "Kalau Mahasiswa seperti anda ya tidak mungkin, atau mental seperti anda, tidak mungkin seperti Fahri tapi bagi mentalnya seperti mental Agus Salim, maka akan ada Mahasiswa yang lebih dari Fahri.."
 
Agus Salim ngga kuliah tapi bisa 9 Bahasa, HAMKA tidak pernah ke Mesir tapi bisa berbahasa Arab dengan Fasihnya, karena semangatnya yang luar biasa...Soerkarno tidak pernah kuliah di Inggris tapi bisa berbahasa Inggris dengan fasihnya. Masalahnya di negara kita sudah terbiasa dengan Tokoh tokoh yang tidak diteladani..seperti di Sinetron ada Jin dan Jun, juga Tuyul dan Mbak Yul, yang terbiasa bicara "Gagal maning gagal maning!!"
 
Ketika dikasih tokoh yang romantis seperti Fahri, yang perhatian pada istrinya, terus dianggap sempurna, kenapa?? Karena biasa artis artis itu selalu rusak...Jadii problemnya itu, bukan Fahri yang sempurna, cara kita memandangnya yang perlu dirubah.. 

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.